Rabu, 04 Oktober 2017

Keberhasilan adalah buah dari ketekunan

Ketekunan Adalah Kekuatan Anda



Apa yang anda raih sekarang adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang anda lakukan terus- menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja. Bila anda yakin pada tujuan dan jalan anda, maka anda harus memiliki ketekunan untuk tetap berusaha. Ketekunan adalah kemampuan anda untuk bertahan ditengah tekanan dan kesulitan. Anda harus tetap mengambil langkah selanjutnya. Jangan hanya berhenti di langkah pertama. Memang semakin jauh anda berjalan, semakin banyak rintangan yang menghadang. Bayangkan, andai saja kemarin anda berhenti, maka anda tidak berada disini sekarang. Setiap langkah menaikkan nilai diri anda. Apapun yang anda lakukan, jangan sampai kehilangan ketekunan anda. Karena ketekunan adalah daya tahan anda.

Baca Juga Cerita Lainnya:



Pepatah mengatakan bahwa ribuan kilometer langkah dimulai dengan satu langkah. Sebuah langkah besar sebenarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil. Dan langkah pertama keberhasilan harus anda mulai dari rumah anda. Rumah anda yang paling baik adalah hati anda. Itulah sebaik-baiknya tempat untuk memulai dan untuk kembali. Karena itu mulailah kemajuan anda dengan memajukan hati anda. Kemudian pikiran anda dan usaha-usaha anda. Ketekunan hadir bila apa yang anda lakukan benar-benar berasal dari hati anda.

Source: Situs tokoh-tokoh komik dunia
Retyped By: Nuel
Read more

Selasa, 03 Oktober 2017

Memberi Tanpa Pertimbangan

Memberi Tanpa Pertimbangan
Gambar: Memberi


Cobalah untuk mengawali suatu hari anda dengan niat untuk memberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa receh yang mungkin tercecer disana-sini. Hanya untuk satu tujuan: diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga atau anda sedang berada didalam mobil ber-AC yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta. Tak peduli bagaimana pendapat anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keping kepada mereka.

Baca Juga Cerita Lainnya:


 
Barangkali ada rasa enggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah, tak seorangpun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini anda hanya sedang berlatih memberi, mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti? Rasakan saja, kini sesuatu mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.

Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya, bukan receh atau berlian yang anda berikan. Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.

Real Author: Andi Muzaki
Retyped By: Nuel
Read more

Mawar Untuk Sang Ibu

Mawar Untuk Sang Ibu
Gambar: Mawar


Seorang pria berhenti ditoko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya hanya punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”

Pria itu tersenyum dan berkata “ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudia ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan keibunya.

Baca Juga Cerita Lainnya:


 
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang kerumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya “ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ketempat ibu saya?”

Kemudian mereka berdua menuju ketempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum. Dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi terenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya, ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

Adaptation From: Rose For Mama – C.W. McCall
Retyped By: Nuel
Read more

Senin, 02 Oktober 2017

Misi Hidup dalam Sebuah Kerja

Misi Hidup dalam Sebuah Kerja



Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal. Yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.

Baca Juga Cerita Lainnya:



Hampir-hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab, “bisa numpang makan dan beli sedikit sabun”  tapi bukankah ia bisa menaikkan harga sedikit? Sekali lagi ia terkekeh. “ lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan keatas truk pengantar mereka ketempat kerja.

Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua diatas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang melindungi langit agar tak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam bekerja: menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.  

Real Author: Andi Muzaki
Retyped: Nuel
Read more

Perumpamaan Garam dan Telaga


Perumpamaan Garam dan Telaga
Gambar: Garam


Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama, ia lalu mengambil segenggam  garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan, “coba. Minum ini, dan katakan bagaimana rasanya...”, ujar pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu. Sambil meludah kesamping.

Pak tua itu, sedikit tersenyum, ia. Lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga didalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ketepi telaga yang tenang itu.

Baca Juga Cerita Lainnya :


Pak tua itu, lalu menabur kembali segenggam  garam, kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu. Pak tua berkata lagi. “bagaimana rasanya?”.

“segar”. Sahut tamunya. “apakah kamu merasakan  garam didalam air itu?”. Tanya pak tua lagi. “tidak” jawab si anak muda.

Dengan bijak. Pak tua itu menepuk-nepuk punggung sianak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh disamping telaga itu. “anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam  garam, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap  sama.

Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan  dalam hidup, hanya ada satu hal yang dapat kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu lalu kembali memberika nasihat “ hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu dan pak tua, orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam, untuk anak muda yang lain, yang sering datang kepadanya membawa keresahan jiwa.  

Real Author: Andi Muzaki
Retyped: Nuel
Read more